Minggu, 09 Juli 2023

Walaupun Terlihat Sama, Ini 5 Perbedaan Pedagang dan Pengusaha

 Walaupun sama-sama memiliki usaha atau bisnis, ternyata ada perbedaan antara pedagang dan pengusaha. Memang secara umum, asumsi yang beredar hampir selalu menyamakan antara pedagang dan pengusaha. Padahal, jika diamati dengan lebih detail, ada sejumlah perbedaan pedagang dan pengusaha. 


Jika dilihat dari definisi, pedagang adalah orang yang mencari untung dengan cara berdagang. Sementara itu, pengusaha adalah orang yang mengusahakan perdagangan, industri, dan sebagainya untuk meraih keuntungan dan memastikan kesuksesan.


Pedagang dan pengusaha juga memiliki pendekatan yang berbeda saat menjalankan praktik bisnisnya. Walau begitu, perbedaan tersebut bisa hilang seketika karena perubahan pendekatan bisnis.


Sebagai contoh, seorang pedagang bisa mengubah orientasi, perspektif, dan pendekatan untuk mencapai skema bisnis yang lebih besar. Saat itulah, seorang pedagang menjadi pengusaha. Yuk, kita bahas lebih detail perbedaan serta bagaimana pedagang dan pengusaha menjalankan bisnisnya.


5 Perbedaan Pedagang dan Pengusaha


Meski terdengar mirip, setidaknya ada lima perbedaan pedagang dan pengusaha yang mungkin belum kamu ketahui. Berikut penjelasannya!


Cara Mendapatkan Modal atau Uang


Pedagang memiliki siklus usaha mendapatkan uang harian untuk melanjutkan usaha dagangnya di kemudian hari. Hal yang sama juga dipikirkan pengusaha, yaitu mendapatkan penghasilan setiap hari.


Namun, dalam mendapatkan penghasilan, pengusaha terus memikirkan solusi dan membangun aset supaya uang datang menghampiri.


Untuk melakukannya, pengusaha akan menentukan visi, menyusun strategi, perencanaan, hingga target. Dalam eksekusinya, pengusaha akan juga lebih proaktif, seperti menciptakan peluang dalam memasarkan usahanya.

Jika pedagang memikirkan omzet  harian, maka pengusaha memikirkan aset.


Sistem Kerja


Perbedaan pedagang dan pengusaha berikutnya adalah pedagang mengusahakan seluruh kegiatan berdagangnya sendiri, sedangkan pengusaha memiliki tim. 


Sebagai contoh, jika kamu adalah pedagang buah di pasar, kamu sendiri yang akan membeli stoknya, menatanya, melayani pembeli, hingga menghitung omzet.


Sementara itu, pengusaha sudah memiliki sistem dan manajemen. Dia sudah memiliki tim untuk mengembangkan usahanya sehingga bertugas memantau kinerja tim atau karyawannya.


Sebagai contoh, jika kamu adalah pengusaha sayur, kamu memiliki pekerja yang memiliki tugas sendiri-sendiri, seperti melayani pembeli, membeli stok, hingga melakukan pengiriman.


Fleksibilitas Waktu Bekerja


Mengingat pedagang melakukan usahanya sendiri, waktu yang dibutuhkan untuk mengelolanya akan sangat banyak.


Jika dilihat dari fleksibilitas, pedagang bisa menghentikan usahanya sementara untuk berlibur, sakit, atau keperluan lainnya. Namun, mengingat usaha yang dijalankan mengincar omzet, pedagang tidak bisa berlama-lama menutup usahanya.


Sebaliknya, pengusaha sudah memiliki tim untuk menjalankan usahanya sehingga memiliki fleksibilitas waktu yang lebih bebas. Pengusaha juga tidak mengurusi langsung hal-hal teknis dan berfokus membangun relasi  bisnis.


Perencanaan Usaha


Pedagang tidak harus menyiapkan perencanaan bisnis sesulit sedetail dan pengusaha dalam mengusahakan keuntungan.


Sementara itu, pengusaha memiliki visi hingga target untuk diwujudkan sehingga memiliki perencanaan yang panjang dan matang.


Sedangkan di sisi sebaliknya, pedagang memiliki perencanaan yang tidak sedetail dan serumit pengusaha. Sebab, pedagang hanya mementingkan barang dagangannya laku sehingga keuntungan didapatkan.


Sebaliknya, pengusaha memiliki rencana yang matang, baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang, tergantung tingkat kesulitan bisnis tersebut untuk dibangun atau dikembangkan.


Penilaian pada Keuntungan


Seperti disebutkan di atas, pedagang menginginkan keuntungan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual dagangan.


Oleh karenanya, pedagang mementingkan traffic transaksi dari selisih harga jual dan beli sehingga menghasilkan pendapatan harian atau omzet yang besar.


Sementara itu, pengusaha mengambil tindakan-tindakan bisnis dengan memperhatikan kesempatan dalam mengambil keuntungan.


Pengusaha akan lebih mengutamakan keberlanjutan, yakni membangun transaksi agar dilakukan dalam jangka panjang dan terus menerus.


Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut tentang perbedaan pedagang dan pengusaha, kamu bisa mempelajarinya di berbagai kelas membangun UMKM.

Apa Itu ROE (Return on Equity)? Ini Pengertian & Cara Hitungnya

Ingin menunjukkan seberapa efisien bisnis Anda pada investor? Pakai ROE saja!

Setiap perusahaan memiliki tiga jenis return, yaitu return on assets (ROA), return on investment (ROI), dan return on equity (ROE). Ketiganya punya peran dan fungsinya masing-masing. Akan tetapi bagi investor, ROE adalah jenis return paling menarik untuk diketahui. Di antara tiga jenis return perusahaan, perhitungan return on equity adalah yang paling bersih, karena sudah dipotong berbagai pengeluaran.

Sama seperti jenis return lainnya, perhitungan ROE dapat mencerminkan kinerja perusahaan. Akan tetapi, ROE lebih menunjukkan data perolehan laba bersih dengan modal tertentu. Selengkapnya tentang pengertian ROE, cara menghitung, dan rumus ROE bisa Anda simak berikut ini.


Apa Itu ROE (Return On Equity)?

Dalam bisnis dan ekonomi, pengertian ROE adalah metriks guna membandingkan jumlah pendapatan bersih (net income) perusahaan dan jumlah total modal investor/pemilik di dalamnya. Sementara itu di dunia saham, pengertian ROE adalah jumlah pendapatan bisnis bersih per dana investor yang masuk.

ROE atau return on equity adalah salah satu unsur penting demi mengetahui sejauh mana suatu bisnis mampu mengelola permodalan dari para investornya. Apabila perhitungan ROE-nya makin besar, maka reputasi perusahaan pun meningkat di mata pelaku pasar modal. Sebab, usaha tersebut terbukti mampu memanfaatkan bantuan modal dengan sebaik-baiknya.


Manfaat Penggunaan ROE

Setelah membahas apa itu ROE, kali ini kita akan membahas betapa besar pengaruh penggunaan ROE, terutama bagi investor. Lebih detail tentang manfaat ROE adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan Tingkat Profitabilitas Perusahaan
    Bagi investor, ROE adalah metriks paling mudah untuk mengetahui seberapa tinggi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba. Dengan adanya return on equity, investor bisa mengambil kesimpulan tentang profitabilitas saham dengan mudah dan cepat.

  2. Menjadi Dasar Estimasi Keuntungan Bisnis di Masa Mendatang
    Faktanya, ROE adalah salah satu tolok ukur paling efektif untuk memprediksi prospek bisnis ke depannya. Jika saat ini perusahaan terbukti mampu menghasilkan ROE minimal 1.0 atau lebih, maka di masa depan ada kemungkinan tingkat return on equity tersebut juga akan meningkat.

  3. Menggambarkan Perkembangan Perusahaan dari Tahun ke Tahun
    ROE perusahaan idealnya stabil atau terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan melihat tren ROE suatu usaha, investor bisa menilai bagaimana profil bisnis di masa lalu dan melihat apakah perusahaan terus bertumbuh atau justru stagnan.

  4. Menjadi Indikator Pembanding dengan Perusahaan Kompetitor
    Sebelum mengambil keputusan investasi, biasanya investor melakukan perbandingan antara banyak perusahaan sekaligus. Siapa bisnis yang ROE-nya paling tinggi, maka dialah yang paling berhak menerima kucuran modal.

  5. Menunjukkan Kredibilitas Perusahaan dalam Mengelola Aset
    ROE adalah salah satu faktor utama yang menunjukkan kredibilitas bisnis dalam mengelola modalnya. Kecilnya tingkat return on equity adalah salah satu pertanda perusahaan tersebut tidak mampu menghasilkan profit sesuai harapan, meski sudah diberi suntikan dana oleh investor.


Faktor yang Mempengaruhi ROE

Selain modal, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi ROE, di antaranya:

  1. Rasio Aktivitas Perusahaan
    Faktor pertama yang dapat mempengaruhi ROE adalah seberapa besar skala aktivitas dilakukan perusahaan. Apabila bisnis tersebut sedang fokus melakukan ekspansi cabang, misalnya. Wajar jika ROE-nya kecil karena ekspansi butuh dana besar dan cabang baru tidak akan langsung bisa menghasilkan profit.

  2. Rasio Utang
    Faktor berikutnya yang berpengaruh besar pada return on equity adalah rasio utang terhadap laba. Semakin besar utang perusahaan, biasanya nilai ROE-nya juga makin kecil.

  3. Rasio Likuiditas
    Selain menerima utang, perusahaan juga memberikan piutang kepada beberapa pihak lain. Apabila likuiditas bisnis tidak lancar, maka nilai ROE akan terpengaruh juga. Sebab meski sudah jadi hak milik usaha, piutang belum bisa dikategorikan sebagai laba.

Rumus Return On Equity

apa itu ROE, manfaat, dan faktor-faktor yang bisa mempengaruhinya. Kali ini kita akan membahas rumus return on equity. Seperti ini bunyinya:

Rumus ROE = (Omzet - Biaya)/Modal 
atau 
Rumus ROE = Pendapatan Bersih (Net Income)/Modal


Contoh Cara Menghitung ROE

Supaya lebih mudah memahami rumus return on equity, kali ini kita akan membahas beberapa contoh kasus dan cara menghitung ROE-nya.

  1. Kasus PT. Amarta
    Pada tahun 2020, PT. Amarta berhasil mendapat total omzet sebesar Rp470 juta, sementara total pengeluarannya adalah Rp200 juta. Di tahun sebelumnya, PT. Amarta mendapat pendanaan Rp100 juta, sementara sisa modal awal pendirinya adalah Rp150 juta. Maka cara menghitung ROE PT. Amarta yaitu:

    Rumus ROE 
    = (Omzet - Biaya) / Modal 
    = (Rp470 juta - Rp200 juta) / (Rp100 juta + Rp150 juta) 
    = Rp270 juta/Rp250 juta 
    = 1.08

    Jadi, return on equity PT. Amarta tergolong normal dengan sedikit kelebihan dari 1.0.

  2. Kasus PT. Banyubiru
    Pada pertengahan tahun 2021, PT. Banyubiru mendapat penghasilan bersih sebesar Rp275 juta, dan memiliki modal pribadi yaitu Rp350 juta. Maka cara menghitung ROE PT. Banyubiru adalah:

    Rumus ROE 
    = Pendapatan Bersih/Modal 
    = Ro275 juta/Rp350 juta 
    = 0.78

    Angka ini masih tergolong sehat, akan tetapi ini menandakan PT. Banyubiru masih belum bisa balik modal di pertengahan tahun.


Keunggulan ROE

Bagaimana, sudah paham bukan rumus return on equity dan cara menghitungnya? Kalau sudah, kita akan membahas beberapa keunggulan ROE, di antaranya:

  1. Rumusnya Lebih Sederhana
    Keunggulan pertama ROE adalah rumusnya yang sangat sederhana. Asal datanya tersedia, investor bisa menghitung sendiri ROE perusahaan target investasinya.

  2. Menggambarkan Laba Secara Riil
    Karena dasar perhitungan ROE adalah laba bersih, maka stakeholder perusahaan dapat mengetahui seberapa mampu bisnis tempatnya bernaung dalam menghasilkan laba dan menjaga namanya.

  3. Bisa Dijadikan Tolak Ukur Evaluasi Kinerja
    ROE adalah salah satu bahan terbaik untuk mengadakan evaluasi, terutama yang berkaitan dengan kinerja manajemen. Jika perusahaan terbukti tidak amanah menjaga angka ROE, investor bisa melakukan RUPS guna mengganti dewan direksi.


Kelemahan ROE

Meski tampaknya efektif, return on equity adalah metriks dengan kekurangan fundamental di sana-sini, selengkapnya adalah sebagai berikut:

  1. Berpotensi Mengurangi Motivasi Perusahaan
    Kelemahan pertama perhitungan ROE adalah turunnya motivasi perusahaan dalam melakukan eksperimen bisnis. Karena orientasinya nilai profit harus di atas biaya, karyawan dan manajemen akan mencari jalan aman saja tanpa berinovasi.

  2. Kurang Mempertimbangkan Depresiasi Modal
    Kekurangan berikutnya return on equity adalah kurangnya perhatian terhadap depresiasi modal. ROE tidak peduli berapa usia riil modal tetap seperti mesin/bangunan saat dihitung. Sehingga meski perusahaan sebenarnya stagnan, tingkat ROE-nya tetap tinggi karena pengurangan nominal aset. Ini akan sangat merugikan investor.

  3. Terkadang Tidak Sesuai Bagi Perusahaan yang Baru Berdiri 
    Kelemahan terakhir ROE adalah kurang cocok diterapkan pada perusahaan baru rintis (start-up). Umumnya, start-up tidak akan bisa punya ROE tinggi di awal, karena produknya masih dalam tahap perkenalan ke pasar.

Itulah pembahasan tentang pengertian ROE, manfaat, faktor, plus minus, serta rumus ROE dan cara menghitungnya! ROE adalah salah satu rumus perhitungan return paling mudah digunakan.

Akan tetapi, sebaiknya Anda tidak menggunakan nilai ROI sebagai satu-satunya acuan dalam menjaga produktivitas perusahaan. Agar lengkap, gunakan indikator lainnya seperti ROA dan ROI serta pertimbangkan juga tujuan jangka panjang perusahaan.